A. Judul
Peningkatan Penguasaan Siswa terhadap Materi
Ajar PKn Melalui Penggunaan Model Pembelajaran Problem Based Learning
B. Nama
Penulis
Entin Supriatin, S.Pd.SD (Guru SD Negeri 2 Cimerak)
C. Bidang
Kajian
PKn
D. Abstrak


Kata
Kunci: Penggunaan Model Pembelajaran Problem
Based Learning, Meningkatkan Penguasaan, Materi Ajar PKn
Sebelum
penelitian ini dilakukan, dapat diketahui aktivitas dan hasil belajar siswa
kelas VI SD Negeri 2 Cimerak dalam pembelajaran PKn, kurang sesuai dengan
harapan. Diduga kuat hal ini disebabkan oleh pengelolaan proses pembelajaran
kurang dilakukan secara profesional oleh guru. Penggunaan model pembelajaran
yang kurang tepat, menjadi salah satu bagian dari sebab akibat terjadinya
persoalan ini. Untuk mengatasinya digunakan model Problem Based Learning. Adapun pokok masalah yang dirumuskan dalam
penelitian ini, pertama terkait dengan langkah-langkah penggunaan model
pembelajaran ini, dan kedua terkait dengan efektivitas penggunaan model
tersebut dalam meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi ajar PKn yang
dipelajar. Dalam rangka itu berpegang pada teori serta metodologi yang telah
ditetapkan. Bertolak dari sini direncanakan dua siklus kegiatan pembelajaran.
Dalam setiap tahapnya menempuh langkah-langkah berikut: (1) perencanaan, (2)
pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Setelah prosesi tersebut
ditempuh oleh guru dan siswa, serta setiap kegiatan yang berlangsung diamati
oleh pengamat, akhirnya diperoleh data untuk diolah atau dianalisis.
Berdasarkan hasil analisis atau pembahasan terhadap data hasil penelitian ini,
akhirnya dapat diambil suatu simpulan untuk menjawab pokok masalah penelitian,
yakni sebagai berikut.
1.
Skor rerata aktivitas siswa yang relevan dengan
pembelajaran mengalami peningkatan dari siklus 1 sampai siklus 2. Pada siklus 1
keberanian siswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapat meningkat dari 70.33
% menjadi 85,55 % mengalami kenaikan sebesar 15,22 %
2.
Skor rerata aktivitas siswa yang kurang relevan dengan
pembelajaran mengalami penurunan dari siklus 1 sampai siklus 2. Pada siklus 1
rerata skor aktivitas siswa yang tidak relevan sebesar 21,26 %, sedangkan pada
siklus 2 sebesar 9,25 % mengalami penurunan sebesar 12,01 %
3.
Skor rerata penguasaan siswa terhadap materi ajar PKn
yang telah dipelajari pada siklus 1 sebesar 7,01 % dan pada siklus 2 sebesar 7,80
%, tergolong baik demikian juga tentang penuntasan belajar pada siklus 1
mencapai 74,82 % dan pada siklus 2 menjadi 89,96 %
4.
Berdasarkan temuan hasil penelitian ini dapat disimpulkan
bahwa model Problem Based Learning
dapat meningkatkan penguasaan materi ajar PKn yang telah dipelajari oleh siswa kelas
VI SD Negeri 2 Cimerak, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Ciamis.
E. Pendahuluan
a. Latar Belakang Masalah
Pendidikan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan
peserta didik menjadi warga Negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten
untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Komitmen yang kuat dan
konsisten terhadap prinsip dan semangat kebangsaan dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945,
perlu ditingkatkan terus menerus untuk memberikan pemahaman yang mendalam
tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Konstitusi Negara Republik
Indonesia perlu ditanamkan kepada seluruh komponen bangsa Indonesia, khususnya
generasi muda sebagai generasi penerus.
Indonesia harus menghindari sistem pemerintahan yang
memasung hak-hak asasi manusia, hak-hak warganegara untuk dapat menjalankan
prinsip-prinsip demokrasi. Kehidupan yang demokratis di dalam kehidupan sehari-hari
di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, pemerintahan, dan
organisasi-organisasi non pemeritahan perlu dikenal, dipahami, diinternalisasi,
dan diterapkan demi terwujudnya pelaksanaan prinsip-prinsip demokrasi serta
demi peningkatan martabat kemanusian, kesejahteraan, kebahagiaan, kecerdasan
dan keadilan.
Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata
pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warganegara yang memahami dan mampu
melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga Negara yang baik,
yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD
1945.
Pendidikan Kewarganegaraan (Citizenship Education) merupakan mata pelajaran yang
memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural,
bahasa, usia, dan suku bangsa.
Untuk menanamkan hal tersebut kepada siswa sekolah dasar, bukan hal yang mudah.
Hal ini seperti yang dialami siswa kelas VI SD Negeri 2 Cimerak. Berdasarkan
hasil refleksi awal terhadap penguasaan materi ajar, sebagian besar kurang
mencapai kriteria ketuntasan minimal yang telah ditetapkan.
Berdasarkan hasil pengamatan dan pengalaman selama ini,
siswa kurang aktif dalam kegiatan belajar-mengajar. Anak cenderug tidak begitu
tertarik dengan pelajaran PKn karena selama ini pelajaran PKn dianggap sebagai
pelajaran yang hanya mementingkan hafalan semata, kurang menekankan aspek
penalaran sehingga menyebabkan rendahnya minat belajar PKn siswa di sekolah.
Banyak faktor yang menyebabkan hasil belajar PKn siswa
rendah yaitu faktor internal dan eksternal dari siswa. Faktor internal antara
lain: motivasi belajar, intelegensi, kebiasan dan rasa percaya diri. Sedangkan
faktor eksternal adalah faktor yang terdapat di luar siswa, seperti; guru
sebagai Pembina kegiatan belajar, startegi pembelajaran, sarana dan prasarana,
kurikulum dan lingkungan.
Dari masalah-masalah yang dikemukakan di atas, perlu
dicari strategi baru dalam pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif.
Pembelajaran yang mengutamakan penguasaan kompetensi harus berpusat pada siswa
(Focus on Learners), memberika
pembelajaran dan pengalaman belajar yang relevan dan kontekstual dalam
kehidupan nyata (provide relevant and
contextualized subject matter) dan mengembangkan mental yang kaya dan kuat
pada siswa.
Di sinilah guru dituntut untuk merancang kegiatan pembelajaran yang mampu
mengembangkan kompetensi, baik dalam ranah kognitif, ranah afektif maupun
psikomotorik siswa. Strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa dan penciptaan suasana yang
menyenangkan sangat diperlukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam
mata pelajaran PKn. Dalam hal ini penulis memilih model “pembelajaran berbasis
masalah (Problem Based Learning) dalam
meningkatkan penguasaan siswa
kelas VI SD Negeri 2 Cimerak terhadap materi ajar pada
mata pelajaran PKn.
Pembelajaran berbasis masalah adalah suatu proses belajar
mengajar di dalam kelas, di mana siswa terlebih dahulu diminta mengobservasi suatu fenomena.
Kemudian siswa diminta untuk mencatat permasalahan-permasalahan yang muncul,
setelah itu tugas guru adalah merangsang untuk berpikir kritis dalam
memecahkan masalah yang ada. Tugas guru mengarahkan siswa untuk bertanya,
membuktikan asumsi, dan mendengarkan persfektif yang berbeda di antara mereka.
Menurut Mulyasa “Pembelajaran aktif dengan menciptakan suatu kondisi dimana siswa dapat
berperan aktif, sedangkan guru bertindak sebagai fasilitator”. Pembelajaran harus
dibuat dalam suatu kondisi yang menyenangkan sehingga siswa akan terus
termotivasi dari awal sampai akhir kegiatan belajar mengajar (KBM). Dalam hal
ini pembelajaran dengan Problem Based
Learning sebagai salah satu bagian dari pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning)
merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan guru di sekolah untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran PKn.
Berdasarkan uraian di atas maka Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) ini, dirancang untuk mengkaji penerapan pembelajaran model
“Problem Based Learning” untuk meningkatkan penguasaan
siswa kelas VI SD Negeri 2 Cimerak terhadap materi ajar PKn yang dipelajari.
b. Rumusan
Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah tersebut
di atas,
maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:
1.
Bagaimana langkah-langkah
meningkatkan penguasaan siswa terhadap penguasaan materi ajar pada mata
pelajaran PKn melalui penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning?
- Apakah pembelajaran model Problen Based Learning dapat meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi ajar pada mata pelajaran PKn yang dipelajari?
- Sejauh manakah model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa?
c.
Pemecahan
Masalah
PKn
sebagai salah satu bidang studi yang memiliki tujuan “How to Develop Better Civics Behaviours” membekali siswa untuk
mengembangkan penalarannya di samping aspek nilai dan moral, banyak memuat
materi sosial. PKn merupakan salah satu dari lima tradisi pendidikan IPS yakni citizenship transmission, saat ini sudah
berkembang menjadi tiga aspek PKn (Citizenship
Education), yakni aspek akademis, aspek kurikuler dan aspek sosial budaya. Secara
akademis PKn dapat didefinisikan sebagai suatu bidang kajian yang memusatkan
telaahannya pada seluruh dimensi psikologi dan sosial budaya kewarganegaraan
individu dengan menggunakan ilmu politik dan pendidikan sebagai landasan
kajiannya
Implementasiya
sangat dibutuhkan guru yang profesional, guru yang profesional dituntut
menguasai sejumlah kemampuan dan keterampilan, antara lain :
1. Kemampuan
menguasai bahan ajar;
2. Kemampuan
dalam mengelola kelas;
3. Kemampuan
dalam menggunakan metode, media dan sumber belajar;
4. Kemampuan
untuk melakukan penilaian baik proses maupun hasil.
Selanjutnya
UNESCO (dalam Soedijarto, 2004 : 10-18) mencanangkan empat pilar belajar dalam
pembelajaran (termasuk model Problem
Based Learning), yakni :
1. Learning to Know (penguasaan ways of knowing or mode of inquire)
2. Learning to do (controlling, monitoring, maintening, designing, organizing)
3. Learning to live together
4. Learning to be.
Berdasarkan
uraian analisis permasalahan di atas, pendekatan model Problem Based Learning apabila diterapkan di kelas akan dapat
meningkatkan kemampuan siswa dalam menguasai materi ajar mata pelajaran PKn
yang dipelajari.
d.
Tujuan
Penelitian
Tujuan
Penelititan Tindakan Kelas ini adalah meningkatkan kemampuan siswa kelas VI SD
Negeri 2 Cimerak dalam menguasai materi ajar mata pelajaran PKn yang dipelajari,
sehinggga pembelajaran PKn menjadi lebih menyenangkan dan menimbulkan kreativitas.
Selain itu, juga meningkatkan profesionalisme guru dalam mengelola proses
pembelajaran PKn, agar dari pengelolaannya itu memberi dampak ke arah mengaktifkan dan menyenangkan siswa
ketika mengikutinya.
F.
Kajian Teori, Kerangka Pikir, dan Hipotesis
Tindakan
a.
Kajian Teori
1.
Hakikat Belajar
Belajar merupakan proses perubahan yang terjadi pada diri
seseorang melalui penguatan (reinforcement),
sehingga terjadi perubahan yang bersifat permanen dan persisten pada dirinya
sebagai hasil pengalaman (learning is a change of
behaviour as a result of experience), demikian
pendapat John Dewey, salah seorang ahli pendidikan Amerika Serikat dari aliran Behavioural Approach.
Perubahan yang dihasilkan oleh proses belajar bersifat
progresif dan akumulatif, mengarah pada kesempurnaan, misalnya dari tidak mampu menjadi mampu, dari tidak mengerti
menjadi mengerti, baik mencakup aspek pengetahuan (cognitive domain), aspek afektif (afektive domain) maupun aspek psikomotorik (psychomotoric domain). Belajar
merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh
suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil
pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.
Ada empat pilar belajar yang dikemukakan oleh UNESCO,
yaitu sebagai berikut.
1)
Learning to know, yaitu suatu proses pembelajaran yang
memungkinkan sisw a menguasai tekhnik menemukan pengetahuan dan bukan semata-mata hanya
memperoleh pengetahuan.
2)
Learning to do adalah pembelajaran untuk mencapai kemampuan untuk melaksanakan Controlling, Monitoring, Maintening,
Designing, Organizing. Belajar dengan melakukan sesuatu dalam potensi yang kongkret
tidak hanya terbatas pada kemampuan mekanistis, melainkan juga meliputi
kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dengan orang lain serta mengelola dan
mengatasi konflik
3)
Learning to live together adalah membekali
kemampuan untuk hidup bersama dengan orang lain yang berbeda dengan penuh
toleransi, saling pengertia dan tanpa prasangka.
4)
Learning to be adalah keberhasilan
pembelajaran yang untuk mencapai tingkatan ini diperlukan dukungan keberhasilan
dari pilar pertama, kedua dan ketiga. Tiga pilar tersebut ditujukan bagi
lahirnya siswa yang mampu mencari informasi dan menemukan ilmu pengetahua yang
mampu memecahkan masalah, bekerjasama, bertenggang rasa, dan toleransi terhadap
perbedaan. Bila ketiganya behasil dengan memuaskan akan menumbuhkan percaya diri
pada siswa sehingga menjadi manusia yang mampu mengenal dirinya, berkepribadian
mantap dan mandiri, memiliki kemantapan emosional dan intelektual, yang dapat
mengendalikan dirinya dengan konsisten, yang disebut emotional intelegence (kecerdasan emosi).
2.
Hakikat Pendidikan
Kewarganegaraan
Pendidikan kewarganegaraan adalah sebagai wahana untuk
mengembangkan kemampuan, watak dan karakter warganegara yang demokratis dan
bertanggung jawab.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelajaran
PKn dalam rangka “nation and character
building”, yakni sebagai
berikut.
Pertama : PKn merupakan bidang kajian kewarganegaraan
yang ditopang berbagai disiplin ilmu yang releven, yaitu: ilmu politik, hukum,
sosiologi, antropologi, psokoliogi dan disiplin ilmu lainnya yang digunakan
sebagai landasan untuk melakukan kajian-kajian terhadap proses pengembangan
konsep, nilai dan perilaku demokrasi warganegara.
Kedua : PKn mengembangkan daya nalar (state of mind) bagi para peserta didik.
Pengembangan karakter bangsa merupakan proses pengembangan warganegara yang
cerdas dan berdaya nalar tinggi. PKn memusatkan perhatiannya pada pengembangan
kecerdasan warga negara (civic
intelegence) sebagai landasan pengembangan nilai dan perilaku demokrasi.
Ketiga : PKn sebagai suatu proses pencerdasan, maka
pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah yang lebih inspiratif dan
partisipatif dengan menekankan pelatihan penggunaan logika dan pealaran. Untuk
menfasilitasi pembelajaran PKn yang efektif dikembangkan bahan pembelajaran
yang interaktif yang dikemas dalam berbagai paket seperti bahan belajar
tercetak, terekam, tersiar, elektronik, dan bahan belajar yang digali dari
ligkungan masyarakat sebagai pengalaman langsung (hand of experience).
Keempat: kelas PKn sebagai laboratorium demokrasi. Melalui
PKn, pemahaman sikap dan perilaku demokratis dikembangkan bukan semata-mata
melalui ‘mengajar demokrasi” (teaching democracy), tetapi melalui model
pembelajaran yang secara langsung menerapkan cara hidup secara demokrasi (doing
democracy). Penilaian bukan semata-mata dimaksudkan sebagai alat kedali
mutu tetapi juga sebagai alat untuk memberikan bantuan belajar bagi siswa
sehingga lebih dapat berhasil dimasa depan. Evaluasi dilakukan secara
menyeluruh termasuk portofolio siswa dan evaluasi diri yang lebih berbasis
kelas.
b. Kerangka
Pikir
1.
Meningkatkan hasil belajar PKn
melalui model Problem Based Learning
Hasil belajar adalah segala kemampuan yang dapat dicapai
siswa melalui proses belajar yang berupa pemahaman dan penerapan pengetahuan
dan keterampilan yang berguna bagi siswa dalam kehidupannya sehari-hari serta
sikap dan cara berpikir kritis dan kreatif dalam rangka mewujudkan manusia yang
berkualitas, bertanggung jawab bagi diri sendir, masyarakat, bangsa dan negara
serta bertanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Hasil belajar PKn adalah hasil belajar yang dicapai siswa
setelah mengikuti proses pembelajara PKn berupa seperangkat pengetahuan, sikap,
dan keterampilan dasar yang berguna bagi siswa untuk kehidupan sosialnya baik
untuk masa kini maupun masa yang akan datang yang meliputi: keragaman suku
bangsa dan budaya Indonesia, keragaman keyakinan (agama dan golongan) serta
keragaman tingkat kemampuan intelektual dan emosional. Hasil belajar didapat
baik dari hasil tes (formatif, subsumatif dan sumatif), unjuk kerja (performance), penugasan (proyek), hasil kerja
(produk), portofolio, sikap serta penilaian diri.
Untuk meningkatkan hasil belajar PKn, dalam
pembelajarannya harus menarik sehingga siswa termotivasi untuk belajar.
Diperlukan model pembelajara interaktif dimana guru lebih banyak memberikan
peran kepada siswa sebagai subjek belajar, guru mengutamakan proses daripada
hasil. Guru merancang proses belajar mengajar yang melibatkan siswa secara
integratif dan komprehensif pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik
sehingga tercapai hasil belajar. Agar hasil belajar PKn meningkat diperlukan
situasi, cara dan strategi pembelajaran yang tepat untuk melibatkan siswa
secara aktif baik pikiran, pendengaran, penglihatan, dan psikomotor dalam
proses belajar mengajar. Adapun pembelajaran yang tepat untuk melibatkan siswa
secara totalitas adalah pembelajaran dengan Problem
Based Learning. Pembelajaran dengan model Problem Based Learning adalah suatu model pembelajaran dimana
sebelum proses belajar mengajar didalam kelas dimulai, siswa terlebih dahulu
diminta mengobservasi suatu fenomena. Kemudian siswa diminta untuk mencatat
permasalahan yang muncul, serta mendiskusikan permasalahan dan mencari
pemecahan masalah dari permasalahan tersebut. Setelah itu, tugas guru adalah
merangsang untuk berpikir kritis dan kreatif dalam memecahkan masalah yang ada
serta mengarahkan siswa untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan mendengarkan
perspektif yang berbeda diantara mereka.
Dari uraian di atas dapat diduga bahwa pembelajaran dengan model Problem Based Learning dapat
meningkatkan hasil belajar PKn siswa dibandingkan dengan pendekatan tradisional
(metode ceramah).
2. Pendekatan dan penerapan model Problem
Based Learning dalam mata pelajaran PKn
Pembelajaran model Problem Based Learning berlangung secara alamiah dalam bentuk
kegiatan siswa bekerja dan mengalami, menemukan dan mendiskusikan masalah serta
mencari pemecahan masalah, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Siswa
megerti apa makna belajar, apa manfaatya, dalam status apa mereka, dan
bagaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi
hidupnya nanti. Siswa terbiasa memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang
bergua bagi dirinya dan bergumul dengan ide-ide.
Dalam pembelajaran model Problem Based Learning tugas guru
mengatur strategi belajar, membantu menghubungkan pengetahuan lama dengan
pngetahuan baru, dan memfasilitasi belajar. Anak harus tahu makna belajar dan
menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya untuk memecahkan
masalah dalam kehidupannya.
Dari pembahasan di atas dapat diduga bahwa
pembelajaran dengan model Problem Based
Learning dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam belajar efektif dan
kreatif, di mana
siswa dapat membangun sendiri pengetahuannya, menemukan pengetahuan dan
keterampilannya sendiri melalui proses bertanya, kerja kelompok, belajar dari
model yang sebenarnya, bisa merefleksikan apa yang diperolehnya antara harapan
dengan kenyataan sehingga peningkatan hasil belajar yang didapat bukan hanya sekedar hasil menghapal
materi belaka, tetapi lebih pada kegiatan nyata (pemecahan kasus-kasus) yang
dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran (diskusi kelompok dan
diskusi kelas).
c.
Hipotesis Tindakan
1.
Pembelajaran dengan model Problem Based Learning dapat meningkatkan
hasil belajar mata pelajaran PKn pada siswa kelas VI SD Negeri 2 Cimerak.
2.
Pedekatan model Problem Based Learning dapat
meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran efektif, aktif dan kreatif.
G. Metodologi
Penelitian
a. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan pengembangan metode dan strategi
pembelajaran. Metode dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan
kelas (Class Action Research), yaitu suatu penelitian
yang dikembangkan bersama sama untuk peneliti dan decision maker tentang variabel yang dimanipulasikan dan dapat digunakan untuk
melakukan perbaikan.
Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain : catatan
guru, catatan siswa, rekaman tape recorder, wawancara, angket dan berbagai
dokumen yang terkait dengan siswa.
Prosedur penelitian terdiri dari 4 tahap,
yakni perencanaan, melakukan tindakan, observasi,dan evaluasi. Refleksi
dalam tahap siklus dan akan berulang kembali pada siklus-siklus berikutnya.
|
Data yang diambil adalah data kuantitatif dari hasil tes,
presensi, nilai tugas seta data kualitatif yang menggambarkan keaktifan siswa,
antusias siswa, partisipasi dan kerjasama dalam diskusi, kemampuan atau
keberanian siswa dalam melaporkan hasil.
Instrumen yang digunakan berbentuk : soal tes, observasi, catatan
lapangan. Data yang terkumpul dianalisis untuk mengukur indikator keberhasilan
yang sudah dirumuskan.
b.
Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SD Negeri 2 Cimerak, Kecamatan Cimerak Kabupaten
Ciamis pada siswa kelas VI, dengan jumlah siswa 37 orang, yang terdiri dari
13 orang
laki-laki dan 24 orang perempuan. Penelitian dilaksanakan pada saat mata pelajaran
pendidikan kewarganegaraan sedang berlangsung.
c.
Waktu Penelitian
Penelitian direncanakan selama 4 (empat) bulan dimulai
pada pertengahan bulan Agustus sampai dengan pertengahan bulan Desember 2012.
d.
Prosedur Penelitian
Siklus I
1. Perencanaan
1)
Identifikasi masalah dan penetapan
alternative pemecahan masalah.
2)
Merencanakan pembelajaran yang
akan diterapkan dalam proses belajar mengajar.
3)
Menetapkan standar kompetensi dan
kompetensi dasar.
4)
Memilih bahan pelajaran yang
sesuai
5)
Menentukan skenario pembelajaran
dengan pendekatan pembelajaran berbasis masalah. (PBL).
6)
Mempersiapkan sumber, bahan, dan
alat Bantu yang dibutuhkan.
7)
Menyusun lembar kerja siswa
8)
Mengembangkan format evaluasi
9)
Mengembangkan format observasi
pembelajaran.
2.
Tindakan
1)
Menerapkan tindakan yang mengacu
pada skenario pembelajaran.
2)
Siswa membaca materi yang terdapat
pada buku sumber.
3)
Siswa mendengarkan penjelasan guru
tentang materi yang terdapat pada buku sumber.
4)
Siswa mendengarkan penjelasan guru
tentang materi yang dipelajari.
5)
Siswa berdiskusi membahas masalah
(kasus) yang sudah dipersiapkan oleh guru.
6)
Masing-masing kelompok melaporkan
hasil diskusi.
7)
Siswa mengerjakan lembar kerja
siswa (LKS).
3. Pengamatan
1)
Melakukan observasi dengan memakai
format observasi yang sudah disiapkan yaitu dengan alat perekam, catatan
anekdot untuk mengumpulkan data.
2)
Menlai hasil tindakan dengan
menggunakan format lembar kerja siswa (LKS).
4. Refleksi
1)
Melakukan evaluasi tindakan yang
telah dilakukan meliputi evaluasai mutu, jumlah dan waktu dari setiap macam
tindakan.
2)
Melakukan pertemuan untuk membahas
hasil evalusi tentang skenario pembelajaran dan lembar kerja siswa.
3)
Memperbaiki pelaksanaan tindakan
sesuai hasil evaluasi, untuk digunakan pada siklus berikutnya.
Siklus II
1. Perencanaan
1)
Identifikasi masalah yang muncul
pada siklus I dan belum teratasi dan penetapan alternative pemecahan masalah.
2)
Menentukan indikator pencapaian
hasil belajar.
3)
Pengembangan program tindakan II.
2. Tindakan
Pelaksanaan program tindakan II yang mengacu pada identifikasi masalah
yang muncul pada siklus I, sesuai dengan alternatif pemecahan maslah yang
sudah ditentukan, antara lain melalui:
1)
Guru melakukan appersepsi
2)
Siswa yang diperkenalkan dengan
materi yang akan dibahas dan tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran.
3)
Siswa mengamati gambar-gambar /
foto-foto yang sesuai dengan materi.
4)
Siswa bertanya jawab tentang
gambar / foto.
5)
Siswa menceritakan unsur-unsur materi ajar yang dipelajari yang ada pada gambar.
6)
Siswa mengumpulkan bacaaan dari
berbagai sumber, melakukan diskusi kelompok belajar, memahami materi dan
menulis hasil diskusi untuk dilaporkan.
7)
Presentasi hasil diskusi.
8)
Siswa menyelesaikan tugas pada
lembar kerja siswa.
3. Pengamatan
1)
Melakukan observasi sesuai dengan
format yang sudah disiapkan dan mencatat semua hal-hal yang diperlukan yang
terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung.
2)
Menilai hasil tindakan sesuai
dengan format yang sudah dikembangkan.
4. Refleksi
1)
Melakukan evaluasi terhadap
tindakan pada siklus II berdasarkan data yang terkumpul.
2)
Membahas hasil evaluasi tentang
scenario pembelajaran pada siklus II.
3)
Memperbaiki pelaksanaan tindakan
sesuai dengan hasil evaluasi untuk digunakan pada siklus III
4)
Evaluasi tindakan II
Indikator keberhasilan yang dicapai pada siklus ini diharapkan
mengalami kemajuan minimal 10% dari siklus I.
e. Kriteria
Keberhasilan
Kriteria keberhasilan penelitian ini dari sisi proses dan
hasil. Sisi proses yaitu dengan berhasilnya siswa memecahkan masalah melalui ”
Pembelajaran berbasis masalah ” dengan mengadakan diskusi kelompok belajar, di mana para siswa
dilatih untuk berani mengeluarkan pendapat dan/atau berbeda pendapat tentang materi ajar yang dipelajari.
Belajar PKn serasa lebih menyenangkan, meningkatkan
motivasi/ minat siswa, kerjasama dan partisipasi siswa semakin meningkat.
Hal ini dapat diketahui melalui hasil pengamatan yang
terekam dalam catatan anekdot dan jurnal harian, serta melalui wawancara
tentang sikap siswa terhadap PKn. Bila 70% siswa telah berhasil menguasai materi melalui
metode Problem Based Learning, maka
tindakan tersebut diasumsikan sudah berhasil.
Kriteria hasil penelitian tentang penguasaan materi ajar PKn dan aktivitas siswa
ditetapkan sebagai berikut.
Tabel 1. Kriteria Nilai Penguasaan Materi Ajar
No
|
NIlai
|
Kriteria
|
1
|
< 5,9
|
Kurang
|
2
|
6,0 – 7,50
|
Sedang
|
3
|
7,51 – 8,99
|
Baik
|
4
|
9,00 – 10
|
Baik Sekali
|
Tabel 2. Kriteria Aktivitas Siswa yang Relevan
No
|
NIlai
|
Kriteria
|
1
|
< 50
|
Kurang
|
2
|
60 – 69
|
Sedang
|
3
|
70 – 89
|
Baik
|
4
|
90 – 100
|
Baik Sekali
|
H. Hasil
Penelitian dan Pembahasan
a. Hasil Penelitian
Pembelajaran PKn di kelas VI SD Negeri 2 Cimerak,
Kecamatan Cimerak, Kabupaten Ciamis ini dilakukan dalam dua siklus.
Pada setiap siklus, data yang diambil adalah aktivitas
dan nilai evalusi pada akhir siklus.
Hasil observasi aktivitas siswa dari siklus ke siklus
dapat dilihat pada tabel-tabel berikut ini.
Tabel 3. Data Aktivitas Siswa yang Relevan dengan Pembelajaran
No |
Indikator |
Ketercapaian
|
|
Siklus I
|
Siklus II
|
||
1
|
Keberanian siswa dalam bertanya dan mengemukakan
pendapat
|
52,75%
|
69,44%
|
2
|
Motivasi dan kegairahan dalam mengikuti
pembelajaran ( meyelesaikan tugas mandiri atau tugas kelompok )
|
63,82%
|
83,35%
|
3
|
Interaksi siswa dalam mengikuti diskusi kelompok
|
72,25%
|
88,32%
|
4
|
Hubungan siswa dengan guru selama kegiatan
pembelajaran
|
75,00%
|
91,66%
|
5
|
Hubungan siswa dengan siswa lain selama
pembelajaran (dalam kerja kelompok)
|
77,65%
|
86,11%
|
6
|
Partisipasi siswa dalam pembelajaran
(memperhatikan), ikut melakukan kegiatan kelompok, selalu mengikuti petunjuk
guru).
|
80,55%
|
94,45%
|
Rata -Rata
|
70,33%
|
85,55%
|
Berdasarkan tabel 3 di atas, terlihat bahwa
aktivitas siswa yang relevan dengan kegiatan pembelajaran pada siklus 2
mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus 1, yaitu sebesar 12,42%.
Selanjutnya data aktivitas siswa yang kurang
relevan dengan pembelajaran terlihat pada tabel 4.
Tabel 4. Data Aktivitas Siswa
yang Kurang Relevan dengan Pembelajaran
No
|
Indikator
|
Ketercapaian
|
|
Siklus I
|
Siklus II
|
||
1
|
Tidak memperhatikan
penjelasan guru
|
27,75%
|
13,88%
|
2
|
Mengobrol dengan
teman
|
19,44%
|
8,33%
|
3
|
Mengerjakan tugas
lain
|
16,60%
|
5,50%
|
Rata – rata
|
21,26%
|
9,25%
|
Berdasarkan tabel 4 di atas terlihat bahwa
aktivitas siswa yang kurang relevan dengan kegiatan pembelajaran pada siklus 2
mengalami penurunan dibandingkan dengan siklus 1, yaitu sebesar 12,01%.
Data penguasaan
siswa terhadap
materi ajar dan ketuntasan belajar dari siklus ke siklus
dapat dilihat pada tabel 5 sebagai berikut.
Tabel 5. Data Penguasaan Siswa terhadap
Materi Ajar dan Ketuntasan Belajar Siswa
No
|
Aspek yang diamati
|
Ketercapaian
|
|
Siklus I
|
Siklus II
|
||
1
|
Nilai Rata-rata
pemahaman HAM
|
7,01%
|
7,80%
|
2
|
Siswa yang telah
tuntas
|
74,82%
|
89,96%
|
3
|
Siswa yang belum
tuntas
|
16,52%
|
7,88%
|
Berdasarkan tabel 5 di atas, nilai rata-rata penguasaan siswa terhadap materi ajar mengalami
peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2, begitu juga prosentase siswa yang
mencapai ketuntasan belajar meningkat dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 15,14%.
b.
Pembahasan
Siklus 1 dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan. Siswa dibagi menjadi delapan
kelompok dengan masing-masing kelompok beranggotakan 4 – 5 orang. Setiap
anggota kelompok diberi lembaran kasus yang telah disediakan oleh guru.
Tiap-tiap kelompok melakukan pembahasan dengan mengacu pada buku
pegangan.
Hasil pengamatan guru menunjukkan pada pembahasan siklus
1, terlihat
para siswa sangat antusias dalam mengajukan pertanyaan dan memberikan
argumentasi.
Berdasarkan tabel 3 di atas terlihat keberanian
siswa bertanya dan mengemukakan pendapat, rerata perolehan skor pada siklus 1 52,75 % menjadi 69,44 %,
mengalami kenaikan 16,69 %. Begitu pun pada
indikator motivasi dan kegairahan dalam mengikuti
pembelajaran pada siklus 1 rata-rata 63,82 % dan pada siklus 2 83,35 % mengalami kenaikan 19,53 %. Dalam
indikator interaksi siswa selama mengikuti diskusi kelompok pada siklus 1 yaitu 72,25 % dan pada
siklus 2, yaitu 88,32 % mengalami kenaikan sebesar 16,07 %. Dalam indikator hubungan
siswa dengan guru selama kegiatan pembelajaran, pada siklus 1 mencapai 75 % dan pada
siklus 2 mencapai 91,66 % mengalami kenaikan sebesar 16,66 %. Dalam indikator hubungan
siswa dengan siswa, pada siklus 1
mencapai 77,65 % sedangkan pada siklus 2 mencapai 86,11 %
mengalami kenaikan sebesar 8,46 %. Dalam indikator partisipasi siswa dalam
pembelajaraan terlihat pada siklkus 1
mencapai 80,55 %, sedangkan pada silklus 2 mencapai 94,45 %
mengalam kenaikan sebesar 13,9 %.
Melalui model Problem
Based Learning ini terlihat hubungan siswa dengan guru sangat signifikan
karena guru tidak dianggap sosok yang menakutkan tetapi sebagai fasilitator dan
mitra untuk berbagi pengalaman sesuai dengan konsep creative learning, yaitu melalui discovery dan invention serta creativity and diversity sangat menonjol dalam model pembelajaran ini. Dengan model Problem Based Learning guru hanya mengarahkan strategi yang
efektif dan efisien, yaitu belajar bagaimana cara belajar (learning how to learn). Dalam metode learning how to learn guru hanya sebagai guide (pemberi arah/petunjuk) untuk membantu siswa jika menemukan
kesulitan dalam mempelajari dan menyelesaikan masalah. Melalui metode learning how to learn siswa dapat
mengeksplorasi dan mengkaji setiap persoalan, setiap kasus terkait dengan materi ajar PKn yang dipelajari.
Dalam model Problem
Based Learning melalui diskusi kelompok guru dapat mengamati karakteristik
atau gaya belajar masing-masing siswa. Ada kelompok siswa yang lebih suka
membaca daripada dibacakan kasusnya oleh orang lain. Siswa yang lebih suka
membacakan kasus dalam hal ini tergolong kepada siswa yang memiliki potensi
atau modalitas visual (gaya belajar visual). Sedangkan siswa yang lebih suka
berdialog, saling mengajukan argumentasi dengan cara mendengarkan siswa yang lain sewaktu
menyampaikan pendapatnya baru kemudian menyampaikan pendapatnya tergolong
kepada siswa yang memiliki potensi atau modalitas auditorial (gaya belajar auditorial). Dan siswa
yang dengan lugas, lincah dan fleksibel, selain melihat, mendengar uraian dari
siswa yang lain, dia juga mengakomodir semua permasalahan, mampu membuktikan
teori ke dalam praktek, mampu memecahkan masalah secara rasional,
tergolong kepada kelompok belajar yang memiliki potensi atau modalitas kinestetik (gaya belajar kinestetik). Kelompok
kinestetik ini tergolong pada tipe belajar konvergen, di mana siswa memiliki kekuatan
otak kiri lebih dominan dan cenderung bertanya dengan menggunakan kata tanya “How” (bagaimana).
Berdasarkan hasil Penelitian Tindakan Kelas di atas prosentasi
ketercapaian pada siklus 1 mengalami peningkatan yang signifikan pada siklus 2, maka dapat disimpulkan
bahwa temuan pada penelitian menjawab hipotesis yang dirumuskan pada bab II
bahwa melalui model Problem Based
Learning dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menguasai materi ajar PKn yang dipelajari.
I. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian pada bab IV di atas, ada
beberapa temuan dalam penelitian tindakan kelas ini, yaitu:
1.
Skor rerata aktivitas siswa yang
relevan dengan pembelajaran mengalami peningkatan dari siklus 1 sampai siklus 2. Pada siklus 1 keberanian siswa dalam
bertanya dan mengemukakan pendapat meningkat dari 70.33 % menjadi 85,55 %
mengalami kenaikan sebesar 15,22 %
2.
Skor rerata aktivitas siswa yang
kurang relevan dengan pembelajaran mengalami penurunan dari siklus 1 sampai siklus 2. Pada siklus 1 rerata skor aktivitas
siswa yang tidak relevan sebesar 21,26 %, sedangkan pada siklus 2 sebesar 9,25 % mengalami
penurunan sebesar 12,01 %
3.
Skor rerata penguasaan siswa terhadap materi ajar PKn yang telah dipelajari pada siklus 1 sebesar 7,01 % dan pada siklus 2 sebesar 7,80 %, tergolong baik demikian juga tentang penuntasan belajar pada
siklus 1 mencapai 74,82 % dan pada siklus 2
menjadi 89,96 %
Berdasarkan temuan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa model Problem Based Learning dapat
meningkatkan penguasaan materi
ajar PKn yang telah dipelajari oleh siswa kelas VI SD Negeri 2 Cimerak, Kecamatan
Cimerak, Kabupaten Ciamis.
J. Daftar
Pustaka
Abdullah, H. Rozali, dan Syamsir, 2002, Perkembangan Hak Asasi Manusia
dan Keberadaan Peradilan Hak Asasi Manusia di Indonesia, Jakarta, PT. Ghalia
Indonesia
Affan Gaffar, 2002, Politik Indonesia, Transisi menuju Demokrasi,
Jogjakarta, Pustaka Pelajar
Alfian, 1980, Politik, Kebudayaan dan Manusia Indonesia, Jakarta, LP3ES
Anonim, 1993, Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 50 tahun 1993
tentang Kominsi Nasional Hak Asasi Manusia
, 2006, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22
tahun 2006 tentang Standar Isi, Jakarta
Arikunto, Suharsimi, Suhardjono, dan Supardi, 2006, Penelitian Tindakan
Kelas, Jakarta, Bina Aksara
Asshiddiqie, Jimly, 2005, Format Kelembagaan Negara dan Pergeseran
Kekuasaan dalam UUD 1945, Jogjakarta, FHUII Press
BP7 Pusat, 1995, UUD 1945, P4, GBHN, Bahan Penataran P4, Jakarta, BP7
Pusat
Budimansyah, Dasim, 2002, Model Pembelajaran dan Penilaian Portofolio, Bandung,
PT. Genesindo
Budiardjo, Prof. Miriam, 1995, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta,
Gramedia
Depdiknas, 2006, Standar Kompetensi Kurikulum Pendidikan
Kewarganegaraan Tahun 2006, Jakarta, Depdiknas
Gabriel A. Almond dan Sidney Verba, 1984, Budaya Politik, Jakarta, Bina
Aksara
Kaelan, MS, 2004, Pendidikan Pancasila, Jogjakarta, Edisi reformasi,
penerbit Paradigma
Lemhanas, 2001, Pendidikan Kewarganegaraan., Jakarta, Gramedia Pustaka
Umum
Magnis-Suseno, Franz, 200, Etika Politik, Prinsip-Prinsip Moral Dasar
Kenegaraan Modern, Jakarta, Gramedia
Malian, Sobirin dan Marzuki Suparman, 2003, Pendidikan Kewarganegaraan
dan Hak Asasi Manusia, Jogjakarta, UII Press
Republik Indonesia, Undang-undang No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi
Manusia
Tilaar, HAR, et, al, Dimensi-Dimensi Hak Asasi Manusia dalam Kurikulum
Persekolahan Indonesia, Bandung, PT. Alumni